Begini Bentuk Simpati Pejabat Pemprov Untuk Ponakan Arinal Di PN Tanjung Karang

PODIUM, BANDARLAMPUNG – Sejumlah Aparatur Sipil Negeri (ASN) Pemprov Lampung, terlihat berseliweran di pengadilan negeri kelas I A Tanjungkarang di jam kerja, Rabu (5/2/2020) siang.

Bedasarkan pantauan lapangan, kedatangan 5 orang berseragam dinas ASN putih celana dasar hitam dengan pin lambang pemprov Lampung dan dua honorer, menyaksikan persidangan kecelakaan lalu lintas (lakalantas).

Diketahui ponakan gubernur Arinal Djunaidi, Yogi Gagarin menjadi korban dalam lakalantas tersebut.

Rombongan ASN yang diketahui berdinas di Bina Marga provinsi Lampung ini, sudah ada di PN kelas I A Tanjungkaramg sejak pukul 14.00 WIB. Padahal masih di jam kerja.

“Orang yang berseragam putih hitam itu, sudah kumpul disini dari jam 2 tadi. Kalau dari seragamnya mereka ASN pemprov,” kata salah satu pegawai di PN Tanjungkarang, Rabu (15/2/2020).

Di antara rombongan ASN pemprov Lampung tersebut, tiga diantaranya diketahui merupakan pejabat di dinas Bina Marga Provinsi Lampung, yaitu Pahlia Putra, Andre dan Zikrie.

Zikrie hanya tersipu malu saat ditanya wartawan tentang maksud dan tujuan kehadirannya di PN Tanjungkarang yang pada waktu itu masih terhitung dalam jam kerja ASN.

“Hehehe. Pengen tahu aja. Cuma lihat-lihat aja kok,” katanya kepada awak media.

Jaksa terlihat menghadirkan tiga orang saksi, termasuk Yogi Gagarin. Dua orang saksi lainnya merupakan petugas keamanan pada Kantor PTPN 7 di Jalan Teuku Umar. Saat memberikan kesaksian, Yogi Gagarin menjelaskan tentang kondisinya saat ini pasca kecelakaan itu terjadi.

Petugas keamanan pada Kantor PTPN 7 yang menjadi saksi mata atas kejadian tersebut menjelaskan kecelakaan terjadi persis di depan kantor PTPN 7 sekitar Oktober 2019 lalu, dimana terdakwa atas nama Alvin memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi dari arah Jalan Zainal Abidin Pagar Alam menuju arah Kedaton, Bandar Lampung.

Untuk diketahui, Yogi Gagarin melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian, hingga pada akhirnya terdakwa terduduk di kursi pesakitan untuk mempertanggung jawabkan perkara yang ia perbuat.

Jaksa pun menjerat Alvin Reza Surya Dharma dengan pasal 310 ayat 2, UU RI No 22  Tahun 2009, yang mengatur tentang lalu lintas dan angkutan jalan dengan ancaman pidana penjara paling lama selama 1 tahun  dan denda paling banyak Rp2 juta. (Red)