DPRD Lampung Sebut Sumur Bor Solusi Petani Hadapi Kekeringan

PODIUM, BANDARLAMPUNG – DPRD Lampung mendorong pemerintah provinsi/kabupaten/kota agar membangun sumur bor untuk petani sawah dan hortikultura agar kecukupan air.

“Ini merupakan bentuk kesiapan kita untuk menjawab warning dari BMKG dan Presiden RI Joko Widodo soal kekeringan,”kata Sekretaris Komisi II DPRD Lampung Joko Santoso, Selasa (23/7).

Selain itu, kata Joko, permasalahan ini menjadi tugas dari pemprov Lampung untuk mencari sumber air dengan sosialisasi ke masyarakat. Karena, jika tidak dicarikan solusi bisa berdampak melambungnya harga bahan pokok serta memicu kebakaran lahan.

“Buktinya saat ini harga cabai sudah mahal mencapai Rp 80 ribu per kilogram. Kedepan kita harus menanggulangi kenaikan dan kebakaran lahan,”tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati memprediksi puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada Agustus 2019.

“Itu yang paling luas Agustus puncak musim kemaraunya,” kata Dwikorita di Kantor Presiden, Jakarta, Senin, 15 Juli 2019.

Musim kemarau ini sudah dimulai sejak Mei, namun tidak merata. Dampaknya berupa kekeringan di sejumlah wilayah, khususnya bagian selatan Indonesia, yang diprediksi berjalan hingga September.

Kekeringan, kata Dwikorita, terjadi lantaran saat musim kemarau akan mengalami defisit ketersediaan air di sepanjang Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sampai Papua.

Memasuki Oktober, wilayah Indonesia bagian selatan akan mulai basah karena memasuki musim hujan. Sedangkan wilayah Indonesia di bagian utara akan mengalami kekeringan hingga Desember.

Selain kekeringan, BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan gambut. Potensi dihitung berdasarkan kondisi atmosfer. (Adv)