Ibadah Qurban Wujudkan Kristalisasi Nilai Kemanusiaan

PODIUM, BANDARLAMPUNG, – Momentum Qurban atau Hari Raya Idul Adha 1441 H, dapat dijadikan sebagai media penyampaian pesan-pesan moral ketuhanan serta hikmah dari sejarah kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Tujuannya, manusia disadarkan dan dikembalikan ke fitrahnya dalam beragama.

Islam mengajarkan kepada manusia untuk menebar kabijikan sebagai kristalisasi dari refleksi seorang hamba terhadap nilai kemanusiaan. Nilai kebajikan ini menjadi dasar bahwa Islam hadir di bumi untuk menjadi “rahmat” bagi alam semesta.

Semangat berqurban dan pesan moral ketuhanan mengajarkan seluruh milik bukanlah kepunyaan kita sebenarnya. Semua dan bahkan diri kita sendiri pun milik Tuhan.

Pesan moral ketuhanan ini, segala milik itu sangat terbatas, maka memiliki dan menguasai segala yang ada, berlaku hukum nisbi dan relative. Idul qurban setiap tanggal 10 Dzulhijjah, berkelit-kelindan dengan kenabian Ibrahim AS.

Artinya, nilai ibadah dalam Idul Qurban beserta hikmahnya, memiliki mainstream kesejarahan dalam kehidupannya. Maka, dia merupakan salah satu bentuk ritual keagamaan yang syarat pesan moral dan makna simbolik perjalanan serta pengalaman spiritual Nabi Ibrahim.

Relevansi dan signifikansi lain dari ibadah qurban berkait erat dengan pesan moral kemanusiaan serta solidaritas sosial. Pesan ini dapat dilacak dari jenis qurban yang sesungguhnya.

Digantinya qurban dengan seekor hewan mengindikasikan betapa Allah menghormati manusia dan menjaga nilai-nilai kemanusian. Karena itu, Allah tidak haus darah dan tak butuh keratan daging dari jasad yang di qurbankan.

Sebab pada prinsipnya, syariat berqurban dengan menyembelih hewan yang telah memenuhi kualifikasi dan kriteria, bukan buat allah, yang akan sampai dan diterima Tuhan hanyalah niat tulus dan ketaatan dan keikhlasan.

Sedangkan daging qurban diberikan kepada sesama, terutama fakir miskin, kaum tertindas, teraniaya, sebagai simbol kepedulian sosial.

Konsistensi Nabi Ibrahim sebagai pesan moral Hari Raya Idul Adha, di hadapan kondisi pandemi serta krisis global saat ini, menanamkan rasa empati antar sesama. Ibadah qurban memiliki makna yang sangat fundamental dan tujuan sangat luhur dan mulia bagi kepentingan manusia dan kemanusiaan.

Esensi, makna, tujuan, dan nilai-nilai hakiki ajaran qurban sebenarnya tidak terletak pada daging dan darah hewan qurban, tetapi terletak pada bobot dan kualitas takwa orang yang berqurban, dan kualitas takwa itulah yang pada hakikatnya sampai kepada keridhaan Allah.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya: “Daging-daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”(QS Al-Hajj: 37)

Semangat Idul Adha sesungguhnya tidak berhenti hanya untuk memperkaya horison pengalaman beragama secara individual, tapi juga terimplementasi pada tataran empiris sosial.

Dia harus meningkatkan kualitas penghayatan individu terhadap universalitas nilai-nilai kemanusiaan. Maka, kedudukan agama bukanlah semata-mata cultus privatus, tapi cultus publicus. Berkaitan dengan itu, untuk membuka tabir ibadah qurban secara lebih mendalam agar menghilangkan kesan hanyalah “pesta daging” sesaat dan rutinitas tahunan, maka diperlukan kemampuan menangkap pesan-pesan moral didalamnya.

Lebih-lebih di tengah gelombang dan guncangan musibah yang terjadi secara bertubi-tubi, seperti merambahnya Virus Covid-19 dan goncangan gempa diberbagai daerah Bumi Pertiwi yang kita cintai ini, sudah selayaknya mengetuk hati nurani kita dan menggugah kepekaan sosial kita untuk mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan layanan kemanusiaan.

Ajaran qurban selalu dan tetap relevan dengan nilai-nilai ilahiah dan insaniah untuk diamalkan karena ajaran tersebut merupakan wujud kepekaan dan kepedulian sosial yang menjadi inti sejati pengamalan kemanusiaan yang adil dan beradab. Wallahu’alam.

Penulis : Ilhami