Ilhami: Solusi Hadapi Pilihan Hidup

PODIUM, BANDARLAMPUNG – Ketika hidup adalah sebuah pilihan, maka tidak ada alasan untuk ditinjau ulang. Karena ketika kita sedang dihadapkan dengan banyak pilihan, maka hanya satu yang harus menjadi jawaban.

Dalam hidup kita tidak terlepas dari yang namanya pilihan, baik untuk maju atau mundur. Pilihan untuk melangkah atau tidak. Pilihan untuk menerima atau menolak, dan tidak jarang kita dihadapkan lebih dari dua pilihan yang so difficult.

Namun mau tidak mau kita harus tetap memilih satu pilihan hidup. Pilihlah seiring kata hati yang tak pernah mengingkari.

Ketika hati kecil tidak terdeteksi, logika sering mengganti posisi. Terkadang memang sulit untuk mengikuti kata hati, dan logika pun bicara lagi.

Terkadang memang tidak ada salahnya bertindak dengan logika, asal tak ada hati yang tersakiti pada akhirnya. Menimbang apakah ada yang akan merugi atau tersakiti, hal-hal itu harus difikir ulang sebelum memilih untuk percaya pada logika yang tak ada salahnya untuk dicoba.

Sulit mengandalkan diri sendiri, sharing dengan orang terdekat bisa menjadi solusi. Terkadang setelah hati dan logika bicara, acap kali pusinglah yang melanda pikiran.

Tak ada salahnya mencoba sharing dengan keluarga atau sahabat tercinta, tentunya yang bisa dipercaya. Coba kita serap apa yang mereka bicarakan. Tak harus langsung diterima, pertimbangan pun juga perlu dicoba.

Bersujud dan berdoa, meminta petunjuk yang terbaik dari-Nya. Tuhan tak akan pernah menjerumuskan umat-Nya. Dia akan selalu memberi petunjuk bahkan lewat hal-hal yang terlihat mustahil bagi kita.

Dia akan selalu mencerahkan sisi gelap dari pikiran kita. Namun, tidak ada pilihan untuk coba-coba, semaunya atau cuma bercanda.

Psikolog Satoshi Kanazawa dari London School of Economics, dan Norman Li dari Universitas Manajemen Singapura, secara implisit mengatakan, sebagai pedoman, orang-orang yang hidup di lingkungan padat tak merasa begitu bahagia.

Begitupun untuk merasakan kebahagiaan, banyak dari kita yang membutuhkan komunikasi konstan terhadap teman-teman dan orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama.

Semakin intim dan berkualitas suatu percakapan, maka akan semakin tinggi kebahagiaan. Sesuatu dikatakan bernilai kalau ia bertahan lama dan abadi. Remeh, itu yang mudah datang, mudah hilang, mudah lenyap, itulah materi (uang).

Sepanjang sejarah peradaban umat manusia, hanya kebenaran yang benar-benar abadi. Sangking bernilainya, ia selalu didambakan semua kebudayaan. Jadi sudah tepat orang berwawasan mencampakkan godaan materi dan memilih kebenaran sebagai landasan geraknya.

Kalau tidak sukses berkarier di organisasi, minimal jangan merusak rumah orang. Jangan pernah memakai dogma “tak kudapatkan, lebih baik kuhancurkan daripada dimiliki orang lain”.

Prinsip sakit hati tersebut tak pantas digenggam seorang yang mengaku anak bangsa. Siapa pun dia boleh gagal rebutan kursi.

Tetapi jangan pernah menyia-nyiakan mimpi arah kedepan. Karena perjuangan dan pertarungan itu bukan tentang gengsi, tetapi tanggung jawab pada keringat orang tua di Desa sana.

Perjuangan sekarang bukan pakai peluru, apalagi desakan massa unjuk rasa, tapi keahlian. Jauh-jauh hari, semua orang harus sadar kalau jabatan itu hanya sementara.

Tidak mungkin semua jadi pemilik kursi, dan tidak mungkin posisi itu bisa dibagi-bagi “emangnya sebuah roti”. Mari kita cari lahan perjuangan yang lebih memungkinkan hidup kita secara kompetitif. Demikian di era global saat ini setiap individu seharusnya semakin cerdik menangkap peluang. Wallahu a’lam bishawab. (Rilis)

Penulis : Ilhami