Ini Solusi Atasi Gula Pasir Langka di Lampung

PODIUM, BANDARLAMPUNG, – Langkanya gula pasir di pasaran membuat akademisi ekonomi CURS erwin Ectavianto ikut angkat bicara untuk memberi solusi ke pemerintah provinsi Lampung dibawah kepemimpinan Arinal Djunaidi – Chusnunia Chalim.

Menurut Erwin, pemprov Lampung mesti segera mengambil langkah
dalam menghadapi persoalan ini untuk mengembangkan petani gula lokal dengan menyiapkan lahan dan menjaga kestabilan harga.

“Disamping itu, kita juga harus mencari alternatif lain dengan tidak terlalu bertumpu pada gula tebu saja. tetapi dengan mengembangkan usaha petani gula jagung dan sebagainya,”kata Erwin, Selasa (10/3).

Tujuannya, kata dia, jika hasil tanam gula tebu mengalami penurunan, bisa digantikan dengan gula jagung, gula aren dan sebagainya.

“Maka substitusi ini mejadi penting karena menggantikan produk gula yang biasa dipakai masyarakat sehingga kebutuhan gula dapat digantikan dengan barang lain yang notabennya memiliki produk sama sehingga bisa tersubtitusikan dengan baik,”jelas Erwin.

Walaupun kualitasnya akan berbeda, disinilah, dibutuhkan peran pemerintah dalam hal ini pemprov Lampung untuk mengedukasi masyarakat.

“Kita harus mampu mengedukasi produk tersebut, misalnya apabila gula tebu dikonsumsi secara berlebih, maka akan ada efek samping untuk tubuh. Apabila kita mengkonsumsi gula jagung, maka akan lebih aman,”ucap dia.

“Artinya pemerintah juga selain mencari cara untuk mencari barang subtitusi itu juga harus mengkampanyekan kesehatan agar masyarakat tidak terlalu banyak mengkonsumsi gula tebu secara berlebih yang bisa mengakibatkan penyakit diabetes. Dengan begitu, semakin lama masyarakat yang mengkonsumsi gula berlebih akan semakin berkurang sehingga kelangkaan tidak terjadi,”ucap dia.

Dilain sisi, meskipun terlihat rancu soal kelangkaan gula di Lampung, mengingat Bumi Ruwa Jurai memiliki perusahaan gula tebu terbesar se-Asia Tenggara.

Tetapi, kata Erwin, ia memakluminya mengingat ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kelangkaan gula di pasaran. Pertama, kata dia, faktor iklim.

“Adanya perubahan iklim yang drastis dengan curah hujan yang tinggi membuat produksi saat ini mengalami penurunan sehingga wajar jika terjadi kelangkaan,”ungkap dia.

Kedua, Erwin memprediksi, hasil produksi gula dijual ke luar negeri. Karena adanya perbedaan nilai jual.

“Bahwasanya di daerah kita terdapat lahan dan produksi terbesar se-Asia Tenggara namun itu permasalahannya menjadi rancu apabila kita kekurangan gula. Problematika sekarang yg namanya bisnis yaitu back to the close jadi total close yang ada dengan pendapatan perusahaan menjadi perhatian penting ketika akses atau suplay gula dilahan menjadi terbatas,”ucap dia.

“Sehingga tidak serta merta industri gula dijual ke masyarakat saja. Tetapi mereka akan mempertimbangkan harga diluar. apabila harga diluar lebih potensial dari harga di dalam negri maka mereka lebih cendrung untuk memangsa bangsa pasar demi mendapat keuntungan lebih besar,”jelas dia.

Menurut Erwin, konsumsi gula di Lampung masih sedikit ketimbang di pulau Jawa dan luar negeri. Mengingat Lampung memiliki perusahaan terbesar se-Asia Tenggara, maka sangat wajar jika dilirik oleh pangsa pasar luar negeri.

“Sehingga penjualan ke luar negeri menjadi prioritas penjualan menimbulkan capital fly yang menjadi arus modal penjualannya keluar dari Lampung, sehingga terjadi nya kelangkaan,”ucap dia.(Red)