Kaum Buruh Kecam Gubernur Ancam Wartawan

PODIUM, BANDARLAMPUNG – Tak hanya organisasi Profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), federasi Serika Buruh Karya Utama Konfederasi Serikat Nasional (FSBKU-KSN), pun ikut mengecam pernyataan Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi bernada ancaman kepada salah satu jurnalis.

Ketua FSBKU-KSN Yohannes Joko Purwanto, mengatakan pernyataan bernada ancaman yang dilontarkan mantan Sekdaprov Lampung tersebut, tidak mencerminkan sosok Pemimpin Lampung yang humanis, terutama terhadap Jurnalis.

“Saya sebagai perwakilan dari kaum buruh mengecam keras sikap Arinal Djunaidi yang melontarkan pernyataan apalagi sudah pakai kerudung, sami’na wa atho’na. Jangan sampai nanti innalillahi wainna ilaihi rojiun ke jurnalis,”kata Ketua FSBKU-KSN, Yohannes Joko Purwanto, Rabu (4/3/2020).

“Menurut asumsi saya pernyataan itu termaksud ancaman pembunuhan ke jurnalis. Dalam pemikiran hemat saya juga pernyataan itu bisa merusak mental serta telah mengintervensi kinerja jurnalis,”tegas Joko.

Dalam bekerja, jurnalis harus bersikap kritis dalam mengkritik seorang pemimpin, baik tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota, baik dalam bersikap maupun setiap pengambilan kebijakannya.

Dia menilai jangan malah sebaliknya menjadi pemimpin yang tipis kuping, dan tak mau menerima kritikan. Padahal kritikan itu untuk perbaikan diri agar menjadi lebih baik kedepannya.

“Jadi menurut saya kritikan yang datang dari warga, tokoh masyarakat, akademisi, politisi ataupun lainnya itu semestinya menjadi hal lumrah bagi seorang kepala daerah. Kalau tidak mau ataupun tidak bisa dikritik, jangan jadi Gubernur,”sindir Joko.

Jika ada pemberitaan yang kurang berkenan dihati, kata Joko, semestinya Arinal bisa mengklarifikasi sebagai hak jawab dari pemberitaan tersebut untuk menepis asumsi negatif dari masyarakat.

“Tidak perlu mencari jurnalis yang membuatnya dan mengelurkan pernyataan bernada ancaman dihadapan para kadis dan kawan-kawan jurnalis. Langsung sampaikan hak jawabnya saja, itu baru sikap pemimpin yang sesungguhnya,”sindir Joko.

Sebagai Ketua FSBKU-KSN mengaku sangat terbantu dan berterimaksih dengan kerja jurnalis. “Jurnalis itu pekerjaan mulia, mereka juga ikut mengawal setiap perjuangan kami dalam menyuarakan hak-hak buruh dalam setiap kebijakan pemerintah,” kata dia.

Sebelumnya, Tuti Nurkhomariyah merasa dipermalukan saat meliput di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur Lampung, Selasa siang, (3/3/2020).

Saat itu, Arinal menyinggung pemberitaan dirinya yang mengenakan pakaian dinas dalam Musda X Partai Golkar Lampung di Graha Wangsa, Bandar Lampung, Senin lalu (2/3/2020). Berita yang dimaksud Arinal dimuat media lain, bukan RMOLLampung.

Tak sampai di situ, usai acara Tuti dihampiri empat ajudan Arinal dan membawanya ke ruang kerja gubernur. Dalam ruangan, Arinal mempersoalkan salah satu pemberitaan RMOLLampung.

Seseorang dalam ruangan itu meminta Tuti agar memohon maaf kepada gubernur. Tuti pun menuruti dengan pertimbangan urusan cepat selesai.

Catatan AJI, bukan baru kali ini Arinal bermasalah dengan jurnalis. Pada 2016, Arinal yang waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Provinsi (Sekprov) Lampung melecehkan jurnalis Tribun Lampung Noval Andriansyah. Arinal juga pernah berurusan dengan jurnalis TV One terkait liputan live warga yang mengungsi ke kantor gubernur karena khawatir tsunami.

Kemudian, bermasalah dengan jurnalis Kupas Tuntas pada 2019. Waktu itu, wartawan Kupas Tuntas menanyakan nasib honorer Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat.
Selain itu, Arinal pernah mengancam akan melayangkan somasi kepada Teraslampung.com.

Somasi tersebut terkait berita tentang kemarahan Arinal saat speaker mengaji menjelang salat Jumat di masjid Pemprov Lampung terdengar keras. Saat itu, Arinal meminta Sat Pol PP mematikan suara mengaji di masjid. (Tim)