Kebijakan Arinal – Nunik Berpotensi Hambat Peningkatan Mutu Pendidikan

PODIUM, BANDARLAMPUNG – Rasionalisasi Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2019 di Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Lampung mencapai 5,36 persen berpotensi mengancam mutu pendidikan di Bumi Ruwa Jurai.

Rasionalisasi anggaran Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Lampung mencapai Rp 34.000.000.000 miliar. Sementara pagu anggaran sebelumnya sekitar Rp 634.913.506.000 miliar.

“Janganlah merasionalisasi untuk mendorong kemajuan kualitas pendidikan di Lampung, lantaran bisa menghambat pencapaian akhir,”Kata Anggota Dewan Pendidikan Lampung Yuntardi, Senin (5/8).

“Jika anggaran peningkatan mutu dihilangkan atau dipangkas, bagaimana mau mendorong anak-anak agar lebih kreatif, tidak akan bisa,”ungkapnya.

Rasionanalisasi ini jangan hanya untuk kepentingan fisik saja. Tetapi kepentingan untuk meningkatkan kualitas ataupun mutu siswa itu nol.

“Istilahnya dalam pendidikan, anak-anak diajarkan sebuah teori tanpa adanya praktek. Maka ketika lulus, anak-anak SMA-SMK ini tidak ada apa-apanya,”ungkapnya.

Anggaran pendidikan untuk siswa-siswi SMK itu sangat berat. Hal ini terlihat dengan tidak adanya penambahan peralatan praktek.

“Peralatan anak – anak SMK itu tidak ada penambahan dari jaman dulu sampai sekarang. Dari dulu masih memakai mesin dari platina, sementara sekarang sudah injection, ini kan aneh,”ujarnya.

Sementara untuk pelajar SMA, kata dia, mereka memiliki gedung lab dan peralatannya. Tetapi untuk membuat anak-anak praktek di laboratorium tidak ada.

“Sekolah bonafit di Kota Bandarlampung saja belum tentu memiliki peralatan lab yang lengkap. Ini hampir keseluruhan dialami sekolah-sekolah di kota,”tegasnya.

Dilain sisi, Jika kepemimpinan Arinal – Nunik kembali merasionalisasi anggaran pendidikan di APBD murni, kata dia, bisa berdampak luar biasa.

“Selain meningkatkan angka pengangguran, juga meningkatkan angka kriminalitasi. Sekarang aja tindak kejahatan sudah tinggi,”tegasnya.

” Didepan tempat saya ini dalam satu bulan sudah ada tiga kali kejadian motor dan mobil hilang. Ini kan karena kasus pengangguran. Mereka ingin hidup selayaknya orang lain, tetapi imannya tidak kuat,”pungkasnya. (Red)