Parpol Alami Krisis Kepercayaan, Masyarakat Lamtim Ingin Calonkada Lewat Jalur Independen

PODIUM, LAMPUNGTIMUR – Partai politik mengalami krisis kepercayaan masyarakat menjelang perhelatan pilkada di kabupaten Lampung Timur pada 2020 mendatang.

Hal ini terlihat dalam diskusi bersama pengurus jajaran LSM Gipak, LPAI, SPRI dan AJOI Lampung Timur pada Minggu (13/10).

Diskusi yang mengangkat tema “Deklarasi Cerdas Memilih”mengupas kinerja partai politik, diseminasi informasi publik, kesertaan pemilih, dan sebagainya.

Arip Anggota LSM Gipak dalam diskusi ini menjelaskan bahwa kondisi partai politik di Indonesia khususnya di Lampung Timur, berada dalam tahap krisis kepercayaan dari masyarakat.

Padahal, partai politik merupakan kendaraan paling penting dalam proses keterpilihan seorang calon Kepala Daerah & Wakil kepala daerah.

Selain melalui jalur partai, kata dia, jalur independen sepertinya menjadk lebih efektif dalam mengemban amanah masyarakat.

Ia mencontohkan, salah satu kandidat calon kepala daerah di Lampung Timur, Satono memilih
jalur independen.

“Saat itu hasilnya Satono terpilih sebagai Bupati Lampung Timur dengan meraup suara terbanyak,”kata Arip, Minggu (13/10).

Selain itu, kata dia, Partai politik banyak menuai kritik karena hanya berfungsi dalam aktivitas merebut, mempertahankan, dan membagi kekuasaan.

“Partai hanya hidup saat pemilu, pilkada, kongres, munas, dan kegiatan partai yang lainnya,” kata dia.

Sementara itu, Rini Mulyati, Aktivis LPAI mengatakan bahwa wajah politik di Indonesia khususnya di Lampung Timur saat ini menunjukkan, makin demokratis.

Akan tetapi, partai politik makin pragmatis dan pemilih makin apatis.
Bagaimana dengan menjadi golongan putih? Golput tidak pernah menjadi solusi dan tidak akan menang pada Pemilu.

“Tren partisipasi masyarakat cenderung menurun sejak Pemilu 1999 sampai Pemilu 2019 Salah satu penyebabnya informasi yang kurang dari para kandidat,”ujar Rini.

Sementara itu, Ketua SPRI Heriza Antomi, mengatakan bahwa lembaga penyelenggara pemilu, seperti KPU dan Bawaslu sebagai semestinya harus pandai dalam meyakinkan masyarakat.

“Masyarakat saat ini cenderung bosan dengan sesuatu berkaitan dengan pemilu baik pemilihan anggota legislatif, Pemilu Presiden, maupun pemilihan kepala daerah,” kata Herliza.

Terkait tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Lampung Timur menurut Ketua AJOI Lampung Timur Apriansyah mengatakan, pada tahun 2015 sekitar 59,43 persen dan cenderung menurun dari Pilkada Lampung Timur 2010 yang sebesar 60,23 persen.

Penurunan partisipasi masyarakat terhadap partai politik sangatlah rendah, apalagi adanya gelombang unjuk rasa yang dilakukan oleh Masyarakat dan mahasiswa yang menyebabkan rendahnya pandangan masyarakat terhadap Partai Politik.

Ia berharap, Salah satu calon Kepala Daerah Lamtim bisa mengambil jalur independen.

“Dengan begitu, apabila terpilih nanti Partai Politik tidak akan melakukan penekanan terhadap Pemimpin yang mengambil dari jalur independen ini. Tegas Apriansyah.(Yudi)