Ritual Qurban Dan Ibadah Haji Di Perayaan Idul Adha

PODIUM, BANDARLAMPUNG – Berqurban merupakan salah satu ritual ibadah umat Islam dengan melakukan penyembelihan hewan ternak untuk menjalankan perintah Allah SWT saat memperingati Idul Adha 1440 H.

Selain itu, melalui hewan Qurban ini bisa memperkokoh rasa solidaritas antar sesama muslim maupun lainnya.

Dengan adanya momentum ini, semestinya kesenjangan antara kaya dan miskin, senang dengan menderita, yang terjajah dengan merdeka dapat menikmati hidup bersama-sama secara baik.

Disisi lain banyak orang berinvestasi untuk memiliki kendaraan yang bisa meringankan perjalanannya di dunia, tapi malah abai untuk berinvestasi memiliki kendaraan akhirat dengan berqurban.

Pengorbanan tertinggi manusia adalah mengikhlaskan sesuatu yang sangat dicintai semata-mata untuk dan karena Allah swt. Meskipun sesuatu itu telah lama dinantikan dan baru saja didapatkannya.

Khazanah ini, bisa mengambil I’tibar (perumpamaan) dari kisah keikhlasan jiwa besar Nabi Ibrahim a.s. Dalam cerita itu mengisahkan, nabi Ibrahim telah lama berdoa dan menantikan kehadiran seorang putra.

Namun ketika putra yang telah lama dinantikan dan telah tumbuh berusia tiga belas tahun, justru malah datang perintah baru dari Allah swt, untuk menyembelih putranya sebagai qurban.

Ia pun ikhlas menerimanya. Maka akhirnya, semakin diangkatlah derajatnya di mata Allah swt. Begitupun dengan berhaji bisa meraih spirit berqurban di masa Nabi Ibrahim.

Di dalam perayaan Idul Adha tergabung secara serentak dua ibadah sekaligus, yaitu: ibadah haji dan ibadah qurban. Pelaksanaan ibadah haji khusus di tanah suci Kota Mekkah dan sekitarnya sebagaimana biasa dikenal dengan istilah tanah haram.

Kota Mekkah dan sekitarnya
merupakan daerah tandus namun disucikan dan menjadi saksi faktual perjalanan sejarah risalah kenabian beserta keluarganya.

Dalam beberapa abad sesudahnya berubah menjadi tempat ataupun pusat kemusyrikan umat manusia lintas generasi hingga lahirnya Nabi Muhammad Saw. yang berjuang mengembalikan kota itu menjadi pusat keyakinan tauhid sebagaimana yang dicontohkan oleh leluhurnya, yaitu Nabi Ibrahim, a.s. dan Nabi Ismail, a.s.

Dalam hal ini setidaknya terdapat tiga keistimewaan utama dari kota Mekkah termaktub dalam al-qur’an Lihat, (Q.S. Al-Imran ayat 96-97).

Pertama, tempat yang dipenuhi dengan berkah. Kedua, menjadi tempat petunjuk bagi sekalian alam. Ketiga, tempat yang terjamin keamanannya.

Ka’bah mengandung barakah, hidayah, dan keamanan. Jadi, beruntunglah orang-orang yang bermukim di Mekkah.

Ketiga aspek ini sekaligus sebagai kebutuhan utama bagi umat manusia dalam menjalani kehidupannya di manapun mereka berada dalam upaya memenuhi keperluan hidupnya di dunia maupun akhirat.

Ka’bah juga berfungsi sebagai patokan utama arah (kiblat) untuk peribadatan sholat sebagaimana Allah memerintahkannya kepada umat Nabi Muhammad Saw, dalam al-qur’an Lihat, (Q.S. Al-Baqarah ayat 144, 149, 150).

Jadi, menjadikan Ka’bah sebagai pusat arah kiblat bagi pelaksanaan ibadah sholat dan sebagai tempat bagi ibadah thawaf merupakan wujud keimanan dan kepatuhan kepada perintah Allah swt.

Sedangkan mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, mereka dapat merayakan Idul Adha di seluruh dunia begitupun dengan Islam pada waktu yang sama sejak dari terbit fajar pada 10 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah (hari-hari tasyri’) dengan cara melakukan sholat Idul Adha di lapangan ataupun di masjid-masjid.

Menunaikan ibadah qurban melalui penyembelihan hewan ternak untuk kemudian dibagi-bagikan kepada kaum fakir miskin, dan memperbanyak dzikir.

Oleh karena itu, hasil resapan yang mendalam itu mari kita internalisasikan dan kaitkan dengan berbagai gambaran ganjaran yang akan diterimanya. Yakni akan menenangkan batin serta merasakan gejala positif hingga mampu dalam dirinya.

Sehingga rela melakukan qurban semata-mata mengharap Ridha Ilahi. Dengan begitu, arah kepada konsepsi “sami’na wa ata’na” yang disebutkan dalam Al-Qur’an menjadi karakter yang siap melekat dalam dirinya.

Lalu, dari aspek pengalaman sosial/lingkungan, orang-orang yang melaksanakan haji pada umumnya adalah pada musafir yang berdatangan dari berbagai belahan dunia atau dari daerah-daerah yang jauh (min kulli fajjin a’miqn).

Oleh karena itu, mereka yang melakukan ibadah haji dapat menyaksikan banyak tempat yang dilalui dan didiami. Selain itu, ia juga bertemu dan melihat suku bangsa yang beranekaragam dan berkumpul dengan orang-orang bervariasi gaya serta ragam status sosialnya.

Bahkan, mereka juga menyaksikan tata cara peribadatan sholat, thawaf, dan haji. Artinya, perjalanan jauh dan panjang pelaksanaan ibadah haji memberikan bekas tersendiri bagi pengalaman sosial/lingkungan pada jemaah haji yang boleh jadi fenomena seperti itu hanya dialami mereka sekali dalam seumur hidupnya.

Jadi, melalui ibadah haji mereka merasakan pengalaman sosial/lingkungan yang sangat kaya sehingga hal diasumsikan dapat menjadikan pikiran mereka semakin terbuka, lebih realistik dengan perbedaan dan keragaman, upaya untuk membuka dialog dan memahami orang lain, upaya untuk saling berkenalan serta tolong-menolong.

Bahkan, melalui ibadah haji dapat dibina suatu kesadaran ukhuwwah dan kerjasama keumatan tingkat dunia internasional maupun regional dari aspek ekonomi, politik, budaya, dan keamanan.

Akhirnya, dari aspek pengalaman batin/spiritual, ibadah haji tidak saja berupa ibadah mahdah untuk memenuhi pangggilan Allah (labbaik allahumma labbaik) berziyarah ke Mekkah pada bulan-bulan haji dan mengikuti sunnah Nabi-Nya (ittiba’an lisunnati nabiyyihi).

Akan tetapi di dalamnya juga terkandung hikmah keutamaan spiritual, terutama bagi orang-orang yang menunaikankannya secara baik dan benar.

Mereka akan sangat berpeluang untuk memperoleh karunia berupa nilai berkah, petunjuk, dan keamanan dari Allah Swt, baik di dunia maupun di akhirat.

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, a.s. beserta keluarganya. Ketiga nilai itu sangat jauh keutamaannya daripada harta, anak/ keturunan, tahta, tempat tinggal, dan kesenangan duniawi lainnya.

Ibadah haji dan ibadah qurban juga merupakan kegiatan yang berdimensi menapaktilasi jejak-jejak kehidupan Nabi Ibrahim, a.s. dan keluarganya di kota Mekkah.

Dari aspek ini, terdapat sejumlah ketauladanan yang dapat dipetik darinya untuk meningkatkan kualitas taqwa kepada Allah Swt, yakni pelajaran kesalehan tanpa pamrih dari sebuah keluarga yang saling berlomba-lomba untuk mencapai derajat ketakwaan.

Mereka bahkan rela saling berkorban dari aspek perasaan, materi, tenaga, waktu, tempat tinggal, dan bahkan jiwa-raganya untuk memenuhi perintah Allah SWT.

Akibatnya, mereka lebih merasakan keamanan secara sosial dan kedamaian batin yang lebih mantap dan berkualitas (ithmainnal-qulub) dalam mengarungi gelombang kehidupan yang penuh dinamika, tantangan, dan cobaan sehingga hidupnya lebih terarah, optimis, arif, dan tenang. Wallâhu `A`lam (Rls)

Penulis : Ilhami